DAKWAH, bukan jalan biasa?

  • Post Author:
  • Post Category:Dakwah

Dakwah Bukan Jalan Biasa

Bismillahirrahmaanirrahiim

Hai. Apa kabar iman?

Semoga dengan adanya Allah di setiap detik ingatanmu, futur tak akan mampu untuk melemahkan keyakinanmu.

Hai. Apa kabar iman?

Semoga dengan yakinnya dirimu terhadap keMaha-Kuasaan Nya , tak akan lelah dirimu berlelah di jalan-Nya.

Hai. Apa kabar iman?

Semoga lelahnya dirimu tak membuat dirimu berhenti sampai kelak ridho-Nya membersamai di Jannah-Nya nanti.

Yang nampaknya kuat pun perlu dikuatkan. Hadirnya tulisan ini semoga mampu mengingatkan penulis, bahwa memang berjalan di jalanNya sungguh perlu hadirnya penguatan.

Dakwah adalah jalan mulia. Jalan terpilih untuk mereka yang Allah pilih dan mau dipilih.

Dakwah bukan jalan biasa. Karena dakwah jalan yang diambil oleh mereka yang luar biasa.

Berjalan di jalan ini, insya Allah, walau mungkin kita tak bisa melihat bagaimana akhirnya, yakinlah harapan kita untuk berjumpa dengan-Nya bisa menjadi lebih manis terasa.

Dan memang, berada di jalan ini pasti ada saja yang menjadi rintangan. Itu mengapa, yang Nampak kuat pun perlu juga dikuatkan. Ada beberapa rintangan yang bisa kita kenali, agar bila kita suatu saat bertemu dengan hal ini nanti, kita tak akan terlalu kaget menjalaninya.

Dakwah bukan jalan biasa, didalam buku Fiqh Dakwah yang ditulis oleh Musthafa Mansyur, rintangan dalam dakwah, banyak sekali macamnya, baik yang datangnya dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Di kesempatan kali ini penulis ingin mengenal bersama setidaknya ada empat macam rintangan yang umumnya ditemui di jalan dakwah ini.

  • Penolakan manusia

Ya, hal ini adalah rintangan yang harus sangat kita pahami dalam menjalani jalan dakwah. Penulis merasakan sungguh ketika mengajak di lingkungan keluarga terdekat. Namun, itu tidak seberapa dibanding Nabi Nuh, yang dalam jalan dakwahnya begitu epic diceritakan dalam Al-Quran.

Dalam QS. Hud ayat 25-49, dikisahkan seorang Nabi yang dilemparkan oleh kaumnya ucapan bahwa Sang Nabi adalah seorang pendusta, mengajaknya berpindah dari peninggalan nenek moyang kepada menyembah hanya pada Allahu Ahad. Dilemparkan oleh kaumnya ejekan demi ejekan kepada Sang Nabi, untuk apa ia membuat perahu yang amat besar padahal saat itu ngga ada angin ngga ada hujan? Yang paling menguras air mata adalah penolakan dari permata jiwanya sendiri.

Di QS. Hud ayat ke- 40, Allah swt berfirman untuk siapa siapa saja bahtera tersebut dapat dimuatkan, pun di dalamnya termasuk keluarga Nabi Nuh. Namun ketika adzab-Nya diturunkan, saat air bah itu melanda, si anak justru memilih lari ke atas gunung, tak mau ikut ke dalam bahtera Sang Nabi, ayahnya. Padahal, Sang Nabi sudah mengingatkan bahwa hari itu tak ada lagi yang bisa menyelamatkannya kecuali Allah. Namun Sang Nabi ditolak, oleh anaknya sendiri. Hingga anaknya pun hilang dari pandangan, termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Sang Nabi pun berdoa untuk anaknya. Memohon janji Allah untuk menyelamatkan keluarganya. Begitu sedihnya Sang Nabi ketika harus kehilangan dan ditolak oleh anaknya, yang tentu bagi Sang Nabi dan tentu bagi kita, anaknya adalah termasuk dalam keluarganya.

Tetapi tidak bagi Allah. Allah tidak menggolongkan anak Nabi Nuh sebagai keluarganya dikarenakan perbuatannya sendiri. Hingga Nabi Nuh pun akhirnya berdoa kembali, memohon perlindungan kepada Allah atas apa yang ia tidak ketahui hakikatnya.

Dakwah bukan jalan biasa?

Sungguh, salah satu dari sekian banyak kisah dalam Al-Quran, melibatkan begitu kuatnya emosi ketika menayangkan kisah ini dalam imaji.

Rintangan dalam dakwah dengan bentuk penolakan manusia, begitu banyak. Selain Nabi Nuh, ada Nabi Ibrahim yang diusir oleh ayahnya. Rasulullah dengan Abu Tholib paman yang dikasihinya, atau Rasulullah yang diperlakukan sangat tidak baik saat berdakwah di daerah Thaif. Jadi, penolakan manusia sudah bukan hal yang aneh dalam dakwah.

  • Caci maki

Biasanya, penolakan disertai juga dengan caci maki. Para Nabi yang setiap kali dibilang tidak waras oleh kaumnya. Nabi Musa dikatakan sebagai penyihir. Bahkan Rasulullah dibilang gila alias majnun oleh kaum kafir hingga Allah sendirilah yang membela Rasulullah, dalam QS. At-  Thur ayat 29, dengan ayatnya yang mengatakan bahwa Muhammad saw bukanlah seorang yang gila.

“Maka peringatkanlah, karena dengan rahmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila”

(QS. At- Thur : 29) 

Terus majulah para pejuang dakwah. Caci maki tak akan membuat langkahmu terhenti.

  • Penyiksaan dan Gangguan

Saat kita berjuang mengajak kepada yang benar dan mencegah dari yang bathil, maka akan banyak pihak yang mengikuti godaan lemah syaithan untuk melemahkan perjuangan kita. Ketika ada pihak yang tidak menyukai jalan kebenaran yang kita ambil, mereka akan memberikan penyiksaan dan gangguan. Tak cukup dengan penolakan ataupun caci maki.

Maka begitu kuatlah Bilal ketika masih menjadi budak dipanggang di atas pasir dengan batu besar ditimpa di atas tubuhnya. Maka beranilah Ali menggantikan posisi tidur Rasulullah yang saat itu sudah dikepung untuk dibunuh. Maka tak gentarlah Fathimah membersihkan kepala Ayah yang disayanginya ketika dilempar dengan kotoran oleh kaum yang didakwahinya.

Begitu pula yang belakangan terjadi kepada ulama – ulama kita. Semoga gurunda – gurunda kita selalu dalam penjagaan Allah sebaik- baik penjaga. Yakin selalu hanya Allah Yang Maha Menolong.

  • Bersantai dengan kesenangan setelah penderitaan

Begitulah manusia, disertakan pula dengan dirinya rasa lelah dan mudah mengeluh. Setelah melewati begitu banyak perjuangan, kelokan dan tanjakan dalam berdakwah, ada rasa ingin berhenti sejenak. Wajar memang, panah pun harus ditarik ke belakang untuk dapat melesat tepat. Manusia juga perlu jeda, mundur sejenak untuk mengembalikan arah kewarasan.

Yang menjadi rintangan adalah ketika berjeda, kita menjadi semakin lemah. Yang menjadi rintangan adalah, kita terlalu bersantai hingga sulit untuk memulai. Wahai diri, ketahuilah bahwa dunia ini tempatnya berlelah. Sampai kapan? Sampai lelahmu lelah mengikutimu. Hingga Allah ridho menyambutmu “dan masuklah ke dalam surgaKu”.

Semoga dengan kita mengenal beberapa rintangan dakwah ini, kita bisa lebih memahami bahwa jalan ini memang tak selalu mulus. Dan semakin kita yakin, bahwa ada Allah Yang Maha Kuat, yang selalu kita sandarkan semua urusan.

Dengan adanya rintangan dalam dakwah ini, membuat kita terus menjaga kedekatan pada Allah. Walaupun kadang ada saatnya melemah, tapi pastikan koneksi kita dengan Allah tidak pernah terputus. Mungkin kita tak bisa melihat bagaimana akhir dan hasil dari dakwah yang sudah kita jalani. Yang harus diyakini, apapun usaha kita, lelahnya ikhtiar kita, ketika bertopang pada keikhlasan insya Allah ada nilai pahala disana.

Selamat meniti petualangan di jalan dakwah !

Wallaahu a’lam .

26/04/2020 00:33

“Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah” – Abu Bakar Ra.

Leave a Reply