Siapkan Panggilan Terbaik

  • Post Author:
  • Post Category:Dakwah

Bismillahirrahmaanirrahiim

Setelah maju mundur – naik turunnya niat untuk menuliskan hal ini karena penulis belum pernah mengalaminya sendiri, yuk mari kuatkan azam.

Keadaan akhir- akhir ini membuat kita banyak sekali mengingat, mengingat kematian terutama.

Bukan, bukan bermaksud memperkeruh keadaan.

Beberapa dari kita (termasuk penulis) seringkali merasa takut akan kematian. Maka dari itu, tulisan ini lebih ditujukan kepada diri sendiri. Sekali lagi, ini ditulis oleh penulis yang dangkal ilmu dan ditujukan untuk mengingatkan diri penulis.

Oke, mulai ya dari pertanyaan “Sebenarnya kenapa sih kematian itu menakutkan?”

Horror, mistis?

Atau merasa diri masih banyak salah? Tak punya cukup bekal menghadapi persidangan di depan Seadil – adilnya Hakim?

Atau mungkin ada sebab lainnya? Boleh dituliskan di kolom komentar ya

Ada alasan logis lain yang sebenarnya bisa jadi mewakili semua ketakutan itu, yaitu :

Takut Kehilangan Jasad Kita

Takut kehilangan jasad kita, yang memang Allah takdirkan tubuh ini sebatas menemani saat di dunia saja. Sebatas dunia saja,  Yaa Rahmaan…

Tenang insya Allah di surga nanti akan Allah berikan tubuh lain yang lebih baik dan lebih muda.

Mau masuk surga? Harus mati dulu gais…

Jadi teringat, ini pesan dan pertanyaan yang menyadarkan penulis, dari Abi Bachtiar Nasir di salah satu trainingnya, “Hati – hati dengan blunder pikiran sendiri ! What’s wrong dengan mati? Memangnya apa yang salah dengan mati? “

Nah daripada kita terjebak dengan blunder pikiran sendiri, yuk kita buat mindset baru sehingga kita bisa lebih indah dalam memandang kematian.

  • Janganlah takut mati, apalagi karena kita takut meninggalkan dunia ini, takut meninggalkan jasad kita, takut meninggalkan bangkai kita.

Padahal mati adalah awal dari kehidupan yang baru, bagian dari kehidupan itu sendiri.

Setangkai bunga matahari, untuk menjadi bunga yang tegak dan indah, dia harus rela meninggalkan jasad  awal berupa benihnya. Bayangkan bila ia tak rela meninggalkan benihnya, apakah ia bisa tumbuh? Dia justru akan membusuk di dalam benihnya sendiri.

Berbicara soal mati, yang merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri, maka,

  • Hakikat Kehidupan adalah Memilih Cara Mati

Tentu kita yakin bahwa semua telah ditakdirkan Allah dan tugas seorang makhluk tak lain adalah ikhtiar. Hidup kita adalah ikhtiar kita dalam memilih cara mati. Insya Allah ngga ada yang salah saat kita menginginkan dipanggil dalam keadaan terbaik. Dalam solat, dalam berdzikir, dalam berhaji, dalam nikmatnya berpuasa, dalam perjalanan jihad, atau bahkan dalam perjuangan menolong agama-Nya.

Berdoalah, inginkanlah, pintalah cara mati terbaik versi kita masing – masing.

  • Mati adalah awal Pertemuan dengan Yang Maha Hidup

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. Al- ‘Ankabuut : 5)

Siapa yang tak merindukan dengan Yang Menciptakannya?

  • Mereka Bukan Mati, Mereka Hidup Di Sisi Allah

Ada kematian yang merupakan jalan rezeki, yaitu untuk mereka yang mulia yang gugur di jalan Allah. Syaratnya satu gais, di jalan Allah. Gugur dalam niat meninggikan kalimat Allah, bukan dalam rangka meninggikan namanya sendiri, meninggikan jabatannya, atau meninggikan organisasinya. Hanya meninggikan kalimat Allah. Satu, tapi sulit ya gais syaratnya. Semoga Allah Yang Mampukan.

“Dan jangan sekali – kali kamu mengira bahwa orang – orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum  menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Aali- ‘Imraan : 169 – 170)

  • Terakhir nih, jadi ingat tulisan yang ada di bis kota “Jauh – Dekat Rp 2000”

Siapa yang pernah lihat tulisan itu juga? Pasti pernah naik metro mini ya..? hehe

Penulis memikirkan aja, ternyata kematian itu, mau dekat atau jauh jaraknya dari umur kita saat ini, bekalnya adalah sama. Bukan dua ribu tapi. Bekalnya sama, yaitu amal shalih.

Jadi, mengingat kematian akan semakin membuat kita semangat. Semangat mengumpulkan amal shalih. Semangat untuk senantiasa memperbarui niat hanya untuk Allah. Semangat untuk bisa mendapat rezeki terbaik dari sisi Allah. Semangat untuk bisa berjumpa dengan-Nya dan Utusan-Nya.

Tak ada kata takut lagi dalam mempersiapkan kematian. Yang ada hanyalah kesibukan demi kesibukan untuk senantiasa berusaha dipanggil dengan cara terbaik.

Semoga kita semua Allah panggil dengan cara yang paling baik dan mendapatkan balasan terbaik. Semoga di surga-Nya nanti insya Allah kita bisa kembali dipertemukan seperti indahnya saat kita dipertemukan di dunia (bahkan pastinya lebih indah saat di surga).

Jadii, Selamat mempersiapkan diri bertemu dengan Dia.

Wallaahu a’lam.

29 Maret 2020. 00:53

Leave a Reply