Tentukan Arah Keberpihakan, Sekarang

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Siapa orang sehat dan normal yang ngga bergidik baca kisah di atas?

Bukan maksud apa – apa. Cuma mau berbagi sudut pandang kalau titisan kaum Nabi Luth itu sekarang sudah nyata di depan mata kita. Sekarang mereka dengan bangga membuat pengumuman bahwa mereka didukung oleh banyak kekuatan besar, seolah gamblangnya menunjukkan diri, mengumbar ke sesiapa saja yang ragu dengan eksistensi mereka. Siap merusak peradaban islam, masa depan anak cucu kita, yang selama ini kita berusaha bangun bersama – sama.

Gaes, berbicara tentang ramainya pihak yang terang- terangan mendukung mereka, maka langkah selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kita.

Tidak lagi membeli / menggunakan  produk yang menyokong kegiatan mereka, sejatinya adalah salah satu pembuktian cinta kita kepada Pencipta. Sebagai salah bentuk pernyataan dimana sebenarnya kaki kita berdiri, kepada siapa diri kita memihak.

Jadi teringat kisah seorang nenek tua di pedalaman hutan dan seekor semut.

Saat Nabi Ibrahim dikabarkan akan di bakar oleh si dzaalim Namrudz, seorang nenek tua di tengah hutan segera bangkit keluar dari rumahnya menuju tempat pembakaran Nabi Ibrahim. Untuk apa? Untuk mengumpulkan kayu bakar yang ia temui di hutan dan ikut menyumbangkan kayu tersebut ke kubangan tempat membakar Nabi Ibrahim.

Di sisi lain, ada seekor semut, yang mungkin kita pikir semut memiliki kemampuan yang terbatas, membuat sebuah bejana kecil dari kayu. Untuk apa? Untuk mengumpulkan air dan berusaha memadamkan api yang membakar kayu di mana Nabi Ibrahim dilemparkan.

See? Saat ini bukan lagi saatnya untuk bilang bahwa kalau mau boikot produk yang mendukung terlaknat pelangi, jangan setengah – setengah. Sekali lagi bukan itu, sahabat.

Saat ini adalah saat dimana kita harus menentukan kemana arah keberpihakan kita, saat ini kita tunjukkan pada Pencipta kita bahwa kaki ini berdiri di atas jalan-Nya.

Nenek tua itu, kenapa dia harus repot repot keluar dari hutan yang jauh hanya untuk menyumbangkan kayu bakar yang ia sanggup bawa untuk membakar Nabi Ibrahim? Padahal sudah pasti kayu bakar yang dibawanya tidak akan mampu membuat perubahan secara nyata untuk membesarkan kobaran api. Logikanya pasti kita akan tebang semua pohon yang ada di hutan dan membawa semua kayunya untuk dibawa ke kobaran api. Tapi bukan itu poinnya, sahabat. Nenek itu hanya ingin membuktikan bahwa ia berpihak pada sembahannya yang dihancurkan Nabi Ibrahim.

Sedangkan semut? Apa yang bisa kita harapkan dari setetes air yang dibawanya?

Karena ituah poinnya, sahabat. Ia hanya ingin menjadi bagian dari hal yang benar, walaupun ia hanya bisa membawa setetes air untuk memadamkan besarnya kobaran api. Tak lagi tentang besar kecilnya yang bisa kita perbuat, tapi di manakah hati kita menetapkan taat.

Jadi, selamat menentukan arah keberpihakan, sahabat. Semoga Allah kuatkan langkah kita berada di atas jalan-Nya.

ASHABULKAHFI
BERILMU, BERUKHUWAH, BERDAKWAH

Allah Yang Lebih Tau

Leave a Reply